Sejak Matthieu Blazy mengambil alih posisi Artistic Director di Chanel, pendekatannya terhadap heritage Maison ini terlihat bukan sebagai upaya untuk menghapus kode-kode ikonik yang sudah ada, melainkan mengajak kode tersebut berdialog dengan perspektif baru. Chanel sendiri menggambarkan pendekatan Blazy sebagai sebuah ongoing conversation dengan warisan Gabrielle Chanel.
Dan salah satu area yang paling menarik untuk melihat permainan tersebut adalah hardware. Di tangan Blazy, hardware tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pengunci atau elemen dekoratif. Ia justru menjadi bagian dari cerita desain, diputar, digabungkan, dimodifikasi, bahkan dibuat lebih playful. It becomes the plot twist.
1. Two Iconic Chanel Locks. One Bag.

Photos by Vogue Runway & @lucialiustylist
Chanel memiliki dua closure yang sangat ikonik: Mademoiselle Lock yang identik dengan 2.55 dan CC turn-lock yang menjadi signature Classic Flap atau 11.12. Blazy kemudian mempertemukan keduanya dalam satu desain pada Layered Flap Bag Fall-Winter 2026.
Tas ini hadir dengan konstruksi layered flap, di mana Mademoiselle turn-lock ditempatkan pada flap bagian bawah, sementara CC turn-lock berada di flap bagian atas. Bahkan detail chain-nya ikut menggabungkan karakter dari kedua heritage tersebut. Dua era, dua signature, dalam satu tas. Bukan mengganti DNA Chanel, tetapi menggabungkannya menjadi sesuatu yang terasa baru.
2. When the CC Lock Gets a Twist

Photos by Outlander Magazine & CHANEL
CC turn-lock mungkin merupakan salah satu hardware Chanel yang paling recognizable. Namun kali ini, Blazy memberikan fungsi dan mekanisme baru pada logo tersebut.
Pada salah satu desain Fall-Winter 2026, interlocking CC tidak lagi hanya menjadi emblem yang diam, melainkan dibuat dengan mekanisme swivel. Salah satu bagian logo dapat diputar untuk membuka tas—sebuah perubahan kecil yang membuat closure terasa jauh lebih playful.
Secara visual tetap unmistakably Chanel. Namun ketika digunakan, ada sedikit elemen surprise yang membuat pengalaman membuka tas terasa berbeda. Itulah menariknya pendekatan Blazy: signature yang familiar, tetapi cara kerjanya dibuat tidak terlalu familiar.
3. Strap Hardware Gets Its Own Spotlight

Photos by Outlander Magazine & CHANEL
Eksplorasi Blazy terhadap hardware juga terlihat pada bagian strap.
Pada beberapa hobo bag, bagian tempat chain atau strap bertemu dengan body tas mendapat sentuhan CC yang lebih eksperimental. Bahkan pada salah satu desain, oversized CC emblem ditempatkan di sisi kanan dan kiri tas sekaligus berfungsi sebagai titik pengikat strap.
Jadi, logo tersebut bukan sekadar tempelan. Ia menjadi bagian dari konstruksi tas itu sendiri. Detail seperti ini mungkin terlihat subtle ketika tas sedang diletakkan, tetapi ketika dikenakan, pergerakan strap dan posisi CC menciptakan efek yang jauh lebih dinamis. Functional, but make it Chanel.
4. The CC Emblem Takes Center Stage on the Clutch

Photos by Launchmetrics Spotlight & CHANEL
Kalau beberapa desain bermain dengan hardware yang cukup prominent, ada pula pendekatan yang justru sangat minimal.
Pada salah satu clutch Fall-Winter 2026, Chanel menghadirkan cut-out gold-tone CC emblem sebagai elemen utama pada bagian depan. Desainnya tetap clean, dengan siluet yang sederhana dan minim embellishment, sehingga perhatian justru tertuju pada satu detail tersebut.
Ini menunjukkan bahwa signature Chanel tidak selalu harus hadir dalam bentuk quilting yang penuh atau hardware yang besar. Sometimes, one CC is enough. Hasilnya terasa understated, tetapi tetap punya visual identity yang kuat.
5. Oversized CC Logo on the Hobo

Photos by Vogue Runway & @aboutchanelhere
Kemudian ada salah satu detail yang paling menarik secara visual: oversized CC emblem pada hobo bag. Dari sisi depan, siluetnya terlihat cukup clean dan effortless. Namun ketika diperhatikan dari samping atau ketika tas dikenakan, oversized CC di bagian kanan dan kiri langsung memberikan identitas yang sangat Chanel.
Menariknya, logo tersebut juga tidak terasa seperti sekadar branding yang ditempelkan setelah desain selesai. Ia menjadi bagian dari bagaimana strap terhubung dengan body tas. A signature detail that also becomes part of the construction. Dan mungkin justru di situlah letak Blazy twist.
The Plot Twist Is in the Details
Apa yang dilakukan Matthieu Blazy di Chanel bukan sekadar membuat versi baru dari tas-tas klasik.
Ia mengambil elemen yang sudah sangat familiar, Mademoiselle Lock, CC turn-lock, chain, quilting, dan logo CC—lalu mempertanyakan kembali bagaimana elemen-elemen tersebut bisa digunakan. Hasilnya bukan Chanel yang kehilangan identitasnya, tetapi Chanel yang terasa lebih playful, unexpected, dan contemporary. Karena pada akhirnya, classic tidak selalu berarti harus dipertahankan persis seperti bentuk awalnya.
Sometimes, the most interesting way to respect a classic is to give it a twist.