The House of Dior Rewritten

Ada saja gebrakan dari Jonathan Anderson yang baru saja “jump in” menjadi creative director semua koleksi lini Dior. Mulai dari menswear, womenswear, kidswear, hingga haute couture berada dibawah pengawasannya.

Mulai dari undangan fashion show, setelah Undangan Menswear S/S 2026 lalu, membuat “viral” public melalui telur dari keramik yang terinspirasi dari hadiah kepada Duchess of Devonshire, kali ini untuk undangan womenswear S/S 2026, masih menggunakan piring keramik dengan menyajikan walnuts.

Selain itu Anderson juga mengubah logo Dior yang awalnya capslock, menjadi Dior dengan Capital D yang besar. Hal ini ia lakukan untuk mengembalikan ke “autentikasi” an brand, yakni ia menyamakan logo Dior di masa Christian Dior sendiri tahun 1946. la mempercayai tulisan Dior di tahun 1946 merupakan Typefaces asli khas Perancis. Fun fact : jenis tulisan in dinamakan Cochin, yakni mengambil nama pembuatnya Charles-Nicolas Cochin, seorang pemahat Perancis abad 18.

Sebagai debut pertama Anderson dalam Dior, koleksi Womenswear Spring/Summer 2026 menggunakan background piramida terbalik yang dipercaya terinspirasi dari “Da Vinci Code” dimana hal tersebut menunjukan the “holygrail” yang melambangkan feminisme.

Sebagai pembuka, tiba-tiba piramida itu berubah menjadi screen yang merepresentasikan “history” Dior, mulai dari creative director sebelumnya yakni Maria Grazia Chiuri, Raf Simons, hingga John Galliano. Selain itu terlihat juga icon dalam Dior yakni Prices Diana yang kemudian namanya diabadikan menjadi tas The Lady Dior.

Dalam mempersembahkan koleksinya, Anderson mencoba menyuguhkan 74 look layaknya Shakespeare dalam kehidupan. Referensi William Shakespeare “As You Like It” ditumpahkan ke dalam koleksi kali ini, “All the world’s a stage, and all the men and women merely players.

Ketiga dress sebagai pembuka show yakni tube dress berpita diagonal lengkap dengan Teknik drapery merupakan bentuk penghormatan kepada Mr. Christian Dior dimana menjadi salah satu signature-nya.