Mengubah logo bukan sekadar soal tampilan visual. Bagi luxury brand, perubahan logo adalah bagian dari pembaruan identitas yang lebih besar yang tercermin dalam koleksi, campaign, hingga cara sebuah Brand memposisikan dirinya di industri fashion. Dalam beberapa dekade terakhir, banyak luxury brands terlihat melalui dua fase besar.
- Fase Pertama
Ditandai dengan penyederhanaan logo. Nama panjang sang pendiri mula dipangkas demi tampilan yang lebih ringkas dan modern. Christian Dior menjadi Dior, Yves Saint Laurent berubah menjadi Saint Laurent, dan Balenciaga mengadopsi tipografi yang lebih clean dan minimal. Logo-logo in sering dipasangkan dengan kampanye futuristik dan estetika modern, mencerminkan optimisme terhadap masa depan dan dunia yang terus bergerak cepat.
- Fase Kedua
Sebuah pergeseran arah yang justru kembali ke akar. Banyak brand mulai menghidupkan kembali bahasa visual lama mereka, merujuk pada arsip, logo klasik, dan estetika era 1990-an. Contohnya, Gucci dengan nuansa retro yang kental, Prada yang kembali ke logo segitiga iconic, Burberry yang menghidupkan kembali logo ksatria berkuda, hingga Celine yang menghadirkan siluet dan nuansa koleksi era Phoebe Philo.
Menurut riset budaya, pergeseran in mencerminkan kondisi yang lebih luas ketidakpastian terhadap masa dean. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh perubahan, konsumen mencari rasa aman yang tercermin warisan, sejarah, serta nilai-nilai yang sudah teruji waktu menjadi sumber ketenangan dan kepercayaan.